Guestbook -- Buku Tamu


[ View Guestbook -- Lihat Buku Tamu ]  [ Sign Guestbook -- Isi Buku Tamu ]
Free Guestbook by UltraGuest.com


Contents -- Daftar Isi

  • HIDUP MENJADI TUNA NETRA ADALAH ORANG PILIHAN MAKA BERBAHAGIALAH
  • Goodbye (Air Supply)
  • Dancing Queen (ABBA)
  • Nobody Wants to be Lonely (Christina Aguilera)
  • My Way (Frank Sinatra)
  • I Believe I Can Fly (R. Kelly)


  • Saturday, 25 July 2009

    Pertama, Tunanetra Dilantik Jadi Hakim

    Detuk News, Selasa, 23/06/2009 16:34 WIB

    Eddi Santosa - detikNews

    Antwerpen - Ketunaan fisik seharusnya tak menghalangi hak dasar dan peluang seseorang. Di Antwerpen, Belgia, seorang tunanetra dilantik menjadi hakim dan
    langsung bertugas.

    Bart Hagen (32), nama tunanetra itu. Dia dilantik dan diambil sumpah oleh Ketua Pengadilan Tinggi Michel Rozie, Senin (22/6/2009).

    Hakim Tinggi Rozie mengenal baik hakim Hagen, karena dia juga dosen yang mengajar Hagen saat masih mahasiswa.

    "Saya mengenal Anda saat Anda menempuh ujian di Mahkamah Agung, di mana Anda meraih nilai tinggi. Kemudian saya memonitor Anda saat praktik kerja lapangan
    di Pengadilan Mechelen dan saya juga pernah mengajar Anda, di mana Anda selalu aktif berpartisipasi," Ujar Rozie, dikutip dari De Standaard.

    Hakim Hagen akan menjalankan tugas dengan cara memindai dokumen, selanjutnya dengan bantuan teknologi dokumen itu diubah ke dalam bentuk suara.

    Sementara untuk mobilitas di gedung pengadilan, dia akan dipandu oleh anjing pemandunya yang setia.

    Sunday, 19 July 2009

    HIDUP ADALAH sebuah PILIHAN

    Hidup adalah Sebuah Pilihan
    WWW.PERSPEKTIF BARU.COM
    Edisi 691 | 14 Jun 2009 |

    Tamu kita sekarang Rina Prasarani, seorang wanita berusia 34 tahun. Rina yang tuna netra memiliki pekerjaan sebagai operator telepon di sebuah hotel berbintang
    lima di Jakarta. Dia juga aktif di berbagai organisasi antara lain di Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) sebagai Kepala Departemen Pemberdayaan Wanita.

    Rina mengungkapkan perempuan tuna netra atau penyandang cacat mendapatkan diskriminasi ganda yaitu sebagai penyandang cacat dan wanita. Jadi, sebagai perempuan
    sudah mendapat diskriminasi, kemudian juga diskriminasi sebagai penyandang cacat. Apalagi kalau datang dari keluarga yang miskin maka beban diskriminasi
    menjadi berlipat tiga. Selain itu, banyak perempuan-perempuan tuna netra atau penyandang cacat yang mendapat kekerasan budaya tanpa kekerasan. Artinya,
    kekerasan budaya justru banyak ditimbulkan dari kasih sayang, dimana perempuan tuna netra diharuskan di rumah saja, tidak usah kemana-mana. Akhirnya, mereka
    tidak mendapatkan akses pendidikan, kalau mereka tidak mendapatkan akses pendidikan maka mereka akan menjadi tidak berpendidikan sehingga saat dewasa mereka
    tidak dapat mengakses pekerjaan. Pada akhirnya itu menimbulkan dan menguatkan stigma bahwa perempuan tuna netra adalah beban keluarga.

    Kini Rina aktif baik secara pribadi maupun melalui organisasi Pertuni untuk menghilangkan diskriminasi tersebut. "Saya ingin turut menjadi bagian, walaupun
    terkecil saja tidak apa-apa. Tidak usah yang besar tapi yang kecil saja untuk ikut berpartisipasi dalam perubahan yang lebih baik."

    Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Rina Prasarani Alamsyah.

    Rina masih saudara saya, yaitu putri dari sepupu saya Berry Bismari Tanukusuma. Untuk menceritakan sosok Rina, saya bacakan satu kutipan kalimat dari sebuah
    media nasional. "Daya penglihatan Rina Prasarani kian menurun di usia remaja akibat digerogoti penyakit Retinitis Pigmentosa (RP). Sempat diliputi amarah
    dan kebingungan tapi tidak sampai larut, dia malu kalau harus membebani orang lain." Sekarang Rina bukan saja tidak membebani tapi juga memberikan inspirasi
    dan nilai tambah bagi banyak orang. Saat ini saya mendengar Rina baru pulang dari Korea, suatu perjalanan yang tidak terbayangkan oleh orang lain dengan
    kondisi fisiknya. Kemana saja perjalanan yang telah Rina lakukan selama ini?

    Kalau mewakili Indonesia untuk kegiatan penyandang cacat, saya pernah ke Australia, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Jepang, Filipina, Swiss, Afrika
    Selatan, dan juga Korea.

    Luar biasa. Jadi perjalanan ke Korea itu yang terkini. Apa saja yang dilakukan di Korea?

    Di sana ada leadership training yang diselenggarakan Disable People International. Ada aplikasi pendaftaran yang disebarkan dan kita mendaftarkan diri.
    Kebetulan tahun ini hanya tiga negara yang dipilih yaitu Indonesia, Thailand dan Nepal. Kebetulan yang dipilih dari Indonesia adalah saya. Kegiatan tersebut
    selama satu minggu

    Saya selalu melihat Rina menyanyi di depan umum. Bagaimana kegiatan Anda sebagai vokalis?

    Kebetulan saya aktif di Diferensia Band. Diferensia adalah sebuah kata yang kami buat untuk mengganti kata penyandang cacat, dimana sebenarnya kami berbeda
    tapi bagi kami, "Just like you, we are normal, and just like me, we are different."

    Berapa lama Rina baru menyadari hal tersebut karena penyakit Anda terjadi saat mahasiswa?

    Sebenarnya dari kecil, hanya hambatannya saat itu tidak terlalu signifikan. Jadi tidak menghalangi kegiatan saya sehari-hari. Hanya saja pada saat saya
    mahasiswa, kalau bergerak dan menuruni tangga sering jatuh. Sebenarnya yang membuat saya tidak ingin terlalu lama larut adalah pada tahun 1986 ayah saya
    terserang stroke di usia 46 tahun saat masa produktifnya. Ayah sangat down dan itu sangat berdampak pada ibu saya. Pada saat yang bersamaan, saya dan adik
    divonis Retinitis Pigmentosa. Bayangkan jika kami juga ikutan down, bagaimana ibu saya? Itu yang membuat kami bangkit. Kemurungan kita adalah the last
    thing that my mom needs.

    Rina pada usia muda mengalami dua tantangan. Satu, ayahnya mendapat stroke. Sepupu saya Bery (orang tua Rina) itu orang yang sangat aktif, dia sering juara
    tenis meja. Dia sangat lincah bergaul, sekonyong-konyong stroke pada usia 46 tahun, pada saat Rina dan adiknya serius menghadapi penyakit pada matanya.
    Namun sangat ajaib bahwa baik Rina maupun Jaka (adik Rina) malah bisa menjadi inspirasi bagi keluarga. Walaupun berat untuk dibicarakan, saya ingin melihat
    dari segi yang praktis. Apakah Rina untuk bisa berfungsi aktif tanpa penglihatan mengikuti pelatihan atau ada penyesuaian dulu?

    Pada saat saya menyadari akan kehilangan penglihatan, saya mulai lebih mengandalkan intuisi pendengaran, lalu hafalan di mana setiap kira-kira beberapa
    meter harus belok ke mana, itu kalau tempatnya familiar. Mungkin kalau ke tempat baru biasanya agak sulit. Tapi saya kan hanya kehilangan mata, tidak kehilangan
    mulut untuk bertanya di mana dan ada apa? Jadi, kebetulan masih saja ada orang-orang baik di jalan yang mau membantu.

    Kalau saya lihat di negara-negara Barat orang tuna netra banyak yang menolong di jalan. Apakah di Jakarta juga begitu?

    Masih ada, cuma caranya kadang salah. Misalnya, saya pergi ke kantor membawa tas ransel dan naik bus way. Kalau saya turun dari tangga bus way di depan
    kantor biasanya hanya ada ruang sedikit untuk belok ke kiri menuju trotoar lagi. Jadi di depannya langsung jalan raya. Saya sudah tahu harus ke mana karena
    sudah sehari-hari ke kantor. Tapi orang lain mungkin tidak tahu kalau saya sudah hafal jalan di situ. Jadi, dia tarik ransel saya dan saya reflek menepis
    tangannya karena khawatir pada copet. Padahal maksud dia baik, agar jangan sampai saya jatuh ke jalan.

    Jadi Rina kalau pergi kerja sendiri, betulkah?

    Iya, sendiri. Kebetulan di dekat rumah saya ada halte Trans Jakarta dan di dekat kantor juga ada. Jadi lebih mudah.

    Lalu, soal lainnya seperti bagaimana cara Anda bisa memakai telepon genggam (handphone) atau apakah handphone Anda khusus memiliki huruf timbul (braille)?

    Handphonenya biasa, cuma dipasang satu software yang namanya Talk. Namun software Talk ini hanya bisa dipasangkan pada handphone-handphone yang sudah mempunyai
    sistem operasi symbian. Jadi kalau ganti menu dan lainnya ada suara, tapi logatnya bule karena dia membacanya sesuai bahasa Inggris, seperti ‘a’ dibacanya
    ‘ei’. Saya sudah biasa pakai sehari-hari jadi sudah tahu apa yang diucapkannya. Kalau yang sudah mengenal saya biasanya mengirim pesan singkat (sms) kepada
    saya memakai bahasa Inggris, itu jauh lebih mudah.

    Saya jadi teringat kembali pada Rina setelah menerima pesan dari kakak saya Luki Witoelar. Dia mengatakan Rina ada di facebook. Hebat sekali. Saya mengetahui
    Rina memiliki banyak akal. Tapi saya ingin bertanya bagaimana cara Rina mengisi facebook sebagai tuna netra?

    Sama saja. Jadi di laptop atau komputer yang biasa dipasangkan software bernama Job Access With Speech untuk Windows (JAWS, software aplikasi membaca teks
    yang berfungsi di sistem operasi Windows). Jadi, apa yang tertulis bisa dikonversikan menjadi audio sehingga bisa saya dengarkan kecuali gambar. Kalau
    di bawah gambar itu ada tulisan maka saya tahu mengenai gambar itu.

    Apakah papan ketiknya (keyboard) khusus?

    Tidak. Kalau kita perhatikan keyboard pada huruf F dan J itu ada titik. Semua
    keyboard pasti ada tanda seperti itu, juga di telepon. Jadi untuk orang yang benar-benar bisa mengetik, yang sebetulnya tidak boleh melihat keyboard, karena
    dia harus melihat teks, mengetik dengan 10 jari. Jadi sama dengan saya juga tidak perlu melihat teks.

    Menurut pengamatan Rina, apakah Anda termasuk yang sangat luar biasa di kalangan blind people karena menghadapi hidup dengan sangat tegar begitu?

    Sebetulnya, saya lebih senang disebut dengan happy blind woman.

    Sekarang mengenai hal-hal praktis yang Anda bisa hadapi, tapi kami sendiri suka susah menghadapinya seperti menghadapi tempat pemilihan suara di Pemilu.
    Tentu dalam hal ini tuna netra mempunyai problem lebih banyak. Bagaimana ceritanya?

    Betul. Dari awal perubahan sistem coblos ke penandaan (contreng) saja tanpa disadari sudah berdampak luas bagi tuna netra.

    Waktu itu sebetulnya kami sangat marah. Namun, yang sangat disayangkan adalah perubahan itu, katanya, karena sistem coblos masih mencerminkan peradaban
    yang belum maju. Menurut saya, kalau mau maju jangan memakai pulpen, tapi elektronik sekalian karena kita juga bisa menyelamatkan alam. Bayangkan berapa
    pohon yang harus ditebang untuk Pemilu kita. Selain itu, sistem penandaan juga tidak mengakomodir kerahasian hak pilih bagi tuna netra. Kebetulan kemarin
    kita coba untuk mendesain satu template sebagai alat bantu pilih bagi tuna netra. Bentuknya seperti map dan surat suaranya dimasukkan di sana. Jadi surat
    suaranya sama seperti pemilih lain tapi di map ini ada seperti braille sehingga kita tidak salah untuk memberi tanda pilihan. Namun itu baru bisa diciptakan
    untuk kertas suara pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) karena untuk surat suara untuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sangat rumit, mencantumkan banyak
    nama-nama calon. Sebagai awal hal itu sudah okay, cuma yang sangat kita sangat sayangkan adalah sudah disetujui template
    itu untuk DPD tapi distribusi untuk alat bantu ini tidak merata dan pembuatannya tidak standar juga. Jadi ada braille yang tidak terbaca, ada surat suara
    yang tidak pas dengan template sehingga banyak sekali kekacauan di sana.

    Itu sebetulnya lebih baik diatur dalam peraturan Pemilu maupun lainnya. Sejauh mana orang tuna netra mempunyai representasi untuk kepentingannya di dalam
    badan-badan legislatif?

    Sebetulnya memang seharusnya kita masuk sebagai calon anggota legislatif (Caleg). Kebetulan kemarin juga banyak teman-teman dari penyandang cacat yang mengkaderkan
    diri menjadi Caleg. Yang baru saya tahu adalah kalau tidak salah di Bantul ada tuna netra yang berhasil terpilih menjadi anggota legislatif. Mudah-mudahan
    dari sini kita bisa menyalurkan aspirasi tuna netra karena terus terang saat ini masih kurang kepedulian pada tuna netra. Misalnya, peraturan lalu lintas
    yang baru disahkan tidak berpihak pada penyandang cacat. Ada satu pasal yang meminta untuk pejalan kaki penyandang cacat diberi tanda. Yang sangat marah
    sekali adalah orang-orang tua dari penyandang cacat tuna grahita. Bayangkan, dengan beban mereka sudah menjadi penyandang cacat tapi masih harus ditandai
    lagi. Itu menjadi beban psikologis. Mungkin maksudnya baik tapi karena ketidaktahuan atau caranya salah. Padahal pembuat kebijakan sudah sering bolak-balik
    ke luar negeri, tapi masih membuat kebijakan seperti ini.

    Selain perwakilan langsung, apakah Anda juga mempunyai perwakilan di media massa barangkali ada orang yang suka menulis di koran atau seperti sekarang muncul
    di acara radio atau di forum lain? Apakah hal itu suka Anda lakukan sebagai pengurus Pertuni?

    Kita pernah melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPR dan juga
    talkshow-talkshow di televisi, tergantung isunya. Saat ini yang kita banyak dengungkan adalah masalah Pemilu tadi, tetapi ada hal-hal lain juga misalnya
    masalah pendidikan, ketenagakerjaan yang kita coba advokasikan pada setiap kesempatan.

    Apakah hal itu tidak membuat kehidupan Rina lebih stres karena memikirkan persoalan banyak sekali, walaupun semua orang Indonesia juga stres tetapi pada
    umumnya tidak mau menambah beban pribadi?

    Saya justru bangga bisa menjadi bagian dari itu semua. Jika memang ada perubahan di sana, saya ingin turut menjadi bagian, walaupun terkecil saja tidak
    apa-apa. Tidak usah yang besar tapi saya dapat ikut berpartisipasi dalam perubahan yang lebih baik.

    Hal yang bisa kita pelajari dari sikap Anda karena perubahan itu pasti datang cuma kita tidak tahu ke arah mana. Lalu, apa yang menjadi perhatian Anda dan
    kawan-kawan ke depan?

    Masalah perempuan tuna netra atau penyandang cacat. Kami mendapatkan diskriminasi ganda yaitu sebagai penyandang cacat dan perempuan. Jadi, sebagai perempuan
    sudah mendapat diskriminasi, kemudian juga diskriminasi sebagai penyandang cacat. Apalagi kalau kita datang dari keluarga yang miskin maka beban diskriminasi
    menjadi berlipat tiga.

    Banyak perempuan-perempuan tuna netra atau peyandang cacat yang mendapat kekerasan budaya tanpa kekerasan. Artinya, kekerasan budaya itu justru ditimbulkan
    dari banyaknya kasih sayang, dimana perempuan tuna netra diharuskan di rumah saja, tidak usah kemana-mana. Akhirnya, mereka tidak mendapatkan akses pendidikan,
    kalau mereka tidak mendapatkan akses pendidikan maka mereka akan menjadi tidak berpendidikan sehingga saat dewasa mereka tidak dapat mengakses pekerjaan.
    Pada akhirnya itu akan menimbulkan dan menguatkan stigma bahwa perempuan tuna netra adalah beban keluarga.

    Tuesday, 23 December 2008

    HIDUP MENJADI TUNA NETRA ADALAH ORANG PILIHAN MAKA BERBAHAGIALAH

    Oleh Rony Ryanto Siahaan
    http://ronyryanto.blogspot.com/2008/12/hidup-menjadi-tuna-netra-adalah-orang.html

    Pengalamanku menjadi Relawan pada Pusat Kajian Disabilitas UI. 19 Nov 2008 Di DPP Pertuni Wawancara Dengan Rina Prasarani Aktifis Tuna netra, berikut hasil sinopsisnya

    HIDUP MENJADI TUNA NETRA ADALAH ORANG PILIHAN MAKA BERBAHAGIALAH

    Pada dasarnya setiap manusia ingin dilahirkan sempurna. Tumbuh dan menjadi dewasa ndengan memiliki organ fisik yang berfungsi dengan baik adalah harapan bagi setiap orang, dan Kesempurnaan tersebut saat ini dipercaya sebagai kunci meraih Cita-cita karena Tak sedikit setiap persyaratan pekerjaan baik di dalam instansi pemerintah maupun swasta masih memandang fisik sebagai faktor penentu sebelum pada pengujian kompetensi diri. Akibatnya keberadaan para penyandang cacat kian tidak mendapatkan tempat diberbagai instasi, belum lagi penerimaan masyarakat yang terkadang memandang sebelah mata orang-orang dengan disabilitas itu.. Tampaknya kondisi tersebut tidak membuat patah semangat bagi perempuan yang lahir 33 tahun silam ini, dalam mengarungi tantangan hidup yang semakin diskriminatif. Adalah Rina sosok perempuan ramah yang memiliki semangat. Sepintas siapa yang menyangka gadis bersahaja yang sering memakai kacamata hitam ini adalah tuna netra, ditengah keterbatasan dalam melihat seolah-olah tertutupi oleh wajah cerianya dengan senyum menghias wajahnya, ditambah lagi gerak tubuh dan eyes contact saat sedang berbicara, sehingga setiap orang atau kerabatnya merasa nyaman berada disampingnya, alasannya karena Rina memiliki sifat yang menyenangkan. Tiada hari tanpa kesibukan maka itulah yang menjadi keseharian dari Rina dan kesibukan itu bukan hanya karena pekerjaannya sebagai switch board atau operator telepon di Hotel Grand Maliya, Jl. Rasuna Said, akan tetapi ia juga mempunyai segudang tanggung jawab lainnya, yang tentunya berkaitan dengan misi sosial. Eksistensinya di beberapa organisasi penyandang cacat seperti dalam lingkup Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni), Persatuan Penyadang Cacat Indonesia (PPCI) serta Persatuan Wanita Penyandang Cacat Indonesia (PWCI). Membuktikan dirinya sebagai seorang aktifis penyandang cacat. Yang senantiasa berusaha mencurahkan Semangat dan pengorbanannya untuk mengangkat martabat para penyandang cacat . Rentetan Tugas dan tanggung jawab yang ia miliki tidak dijadikan alasan untuk mengurangi waktu untuk rumah tangganya. Meski suami dan anak keduanya tuna netra tidak merubah entitasnya sebagai sosok Ibu yang setia memberi rasa kasih sayang terhadap suami dan anak-anaknya. Pekerjaan Organisasi, Rumah tangganya ia jalani secara sinergi dan penuh sukacita.. Perjalanan Hidup Rina Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kakakku terlahir dalam keadaan sehat hanya aku dan adikku yang mengalami cacat mata. Aku tidak pernah menyangka pada usia remaja aku akan mengalami gangguan pada mata hingga pada kebutaan, karena dari ayah, ibu dan kakakku tidak memiliki masalah serius pada penglihatannya. Pada masa taman kanak-kanak (TK) penglihatanku masih bagus. Namun ketika saat aku di sekolah dasar Don Bosco 2, Pulo mas. saat itu usiaku sembilan tahun, pada waktu kelas 4 (empat) SD, aku baru mengetahui kalau aku mengalami masalah pada mata, indikasi itu kusadari ketika disekolah diadakan pemeriksaan mata, hanya sekilas saja dokter itu memeriksa dan langsung memberikan surat ke orang tua aku, bahwa aku harus diperiksa lebih lanjut di dokter mata specialis, pun demikian aku menganggap itu sebagai masalah biasa, karena pada saat itu saya memang sudah memakai kacamata. namun dari awal pun dokter dan ibu tidak secara langsung bilang kepadaku kalau aku akan mengalami kebutaan, alasannya untuk menghindari tekanan psikologis di saat usiaku masih sangat muda saat itu. Ditengah semakin menurunnya pelinghatanku, aku masih bersih keras untuk tetap bersekolah hingga aku lulus dari SMP Tarakanita 4, Rawamangun. dan melanjutkan Sekolah Menengah Atas tepatnya di SMA 36, rawamangun. Mataku ini semakin sering mangalami rabun senja apalagi jika kurang cahaya, perih dan pedih yang kurasakan pada mataku. Karena Itulah yang mendorong aku bersama dengan ibuku meminta kepada wali guru agar dapat diperkenankan duduk paling depan supaya dapat melihat tulisan di papan tulis dengan jelas. Senang rasanya saat setiap kali kami meminta duduk paling depan dapat dikabulkan. Pun demikian masih saja aku yang paling telat jika disuruh menulis catatan oleh guruku, belum lagi kalau guruku menerangkannya melalui papan tulis maka kerap aku terkena teguran demi teguran dari guruku karena telah mrncatatnya. Usai tamat Sekolah Menengah Atas, tidak menghentikan langkahku untuk mengambil jenjang yang lebih tinggi. meskipun sebenarnya aku sudah mengetahui kalau aku memiliki jenis penyakit mata Retinetik Stik Mentosa, kucari informasi itu bersama dengan sepupuku disuatu rumah sakit, dan aku baru tahu kalau penyakitku akibat adanya hubungan darah antara ayah dan ibuku. Saat kami kesana tidak diketahui oleh ibuku karena saat itu ibuku menemani ayahku berobat karena stroke di singapura. Walapun aku sudah mengetahui dampak penyakit itu akan mengakibatkan kebutaan, namun aku berusaha berdalil bahwa aku tetap akan bisa melihat dan kalau harus buta tapi bukan dalam waktu dekat akan tetapi terjadi ketika aku tua nanti, alasannya kudapat karena aku melihat kakek dan nenek ku mereka mengalami kebutaan di usia senjanya .asumsi itu yang membulatkan tekadku untuk kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Keuangan dan Perbankan (STEKPI), Kalibata. Namun ternyata penurunan penglihatanku tidak dapat dihindarkan lagi, ketika aku berada di semester VI (enam), sungguh aku berusaha untuk bisa melihat tapi ternyata tidak bisa, hanya bayangan hitam pekat yang aku lihat.. Karena merasa sudah tidak mampu lagi dan tidak mungkin bisa dipertahankan lagi pada semester VII tahun 1996 aku mengundurkan diri dari STEKPI. Rasa frustasi dan pesimis sebisanya aku hindarkan, yang kemudian aku terus berpikir apa yang aku harus kuperbuat untuk membunuh rasa bosanku, yang akhirnya aku bernisiatif untuk kursus bahasa inggris di British Institute, sambil lalu aku mengusahakan terus berobat dan memeriksakaannya Ke rumah sakit. Keinginan untuk sembuh adalah Impianku meski cenderung utopis, aku tetap berjuang untuk dapat melihat, hingga kemudian aku memberikan diri agar mataku dapat dioperasi, kebetulan saat itu dokter rusia sanggup mengoperasi mataku, namun hanya mata kiriku sedangkan mata sebelah kananku mengharuskan aku dioperasi di RS Rusia, meski masih experimental. Walau demikian Aku terus berdoa pada Tuhan dan berharap ada kesembuhan, hingga akhirnya harapan itu sirna ketika kuketahui kalau aku tak ada harapan untuk aku dapat melihat.. Pernah beberapa kali temanku mengeluhkan, bahwa karena operasi itu kondisi mataku semakin parah, kujawab saja dengan sederhana, bisa saja kondisi mataku jauh lebih parah ketika tidak operasi. Rasa penasaranku kini terjawabkan. Walaupun hasilnya sama saja, sama-sama tidak melihat, namun aku puas, karena telah berusaha semampuku hingga aku harus berobat keluar negri. Kini derita ini kuterima dengan hati yang lapang dan aku percaya dibalik itu semua ada hikmah yang aku dapat. Hngga aku yakin bahwa orang-orang dengan penyandang cacat adalah orang-orang pilihan, jadi berbahagialah. Saat aku sudah tidak dapat melihat lagi, aku berusaha untuk tidak membebani ibuku karena saat itu ayahku mengalami jatuh stroke yang mengakibatkan kelumpuhan pada kaki kirinya, peristiwa itu membuat ibuku sangat shock. Melihat wajah ibuku, tak tega rasanya. oleh karenanya semampuku aku menampakan padanya bahwa diriku baik-baik saja, dan terus berharap sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi pada ayahku.. Aku memiliki karakter untuk terus belajar dan tuntutlah ilmu setinggi mungkin, hingga aku melanjutkan kuliah lagi di Universitas nasional (Unas) dengan mengambil sastra inggris. Namun suatu ketika kuliahku kembali terhenti karena tahun 1998 aku menikah, dan suamiku juga tuna netra pula, dan sekarang aku memiliki 2 orang anak, anak terakhirku tunanetra pula sekaligus terkena autis. Seiring berjalannya waktu, aku terdorong untuk mencari komunitas yang yang senasib denganku, dengan harapan aku bisa tahu, suka duka menjadi tuna netra dan apa yang harus dilakukan, bersama sepupuku aku mencarinya, pertama-tama kami tergerak untuk observasi di SLB tebet dan ternyata tempat itu adalah untuk tuna grahita. Dari sana kami mendapatkan informasi kalau untuk tuna netra tempatnya di Lebak bulus, disitu saya bertemu dengan bu kartini dan bersamanya, aku belajar Braille secara privat sehingga saya lebih cepat mengetahui huruf-huruf Braille. Dan kemudian ibu kartini mengarahkan aku ke Kartika Mitra Netra. Berada disana sungguh saya sangat senang karena saya dapat menjumpai orang-orang yang senasib dengan saya, dan ada beberapa orang yang memiliki penyakit yang sama seperti saya yakni Retinetik Stik Mentosa. Dari sana saya mulai aktif di perkumpulan remaja tuna netra. Lama disana saya dipercayakan menjadi sekretaris kartika mitra netra. Hingga akhirnya aku dapat mengenal dengan ibu aryani, dia adalah ketua umum himpunan wanita penyandang cacat Indonesia (HWPCI), melalui dialah yang membuka gerbang karir menjadi aktfis penyandang cacat. Saya bersyukur saya diberi kesempatan mengikuti leadership and management training di Negara India, saya menjadi salah satu yang menemaninya mengikuti training disana, alasan karena bu aryani melihat diriku memiliki kualitas dan kapasitas bahasa inggris yang baik. Pasca training aku semakin dilibatkan di dalam HWPCI hingga kemudian pada tahun 1998 aku direkrut menjadi kepala pengembangan daerah. dan pada tahun 2000 DPP Pertuni mempercayakan saya menjabat sebagai Kepala Departemen Pemberdayaan Perempuan. Keatifan dan integritasku mulai diketahui oleh banyak orang, hingga kemudian 2002 pada momen Munas Perhimpunan penyandang cacat Indoensia (PPCI) meminta ku menjabat sebagai kepala seni dan budaya. Dan aku menerimanya dengan harapan aku membrikan kontribusi nyata. Dari sana mobilitasku semakin luas, hingga aku dapat melalang buana ke berbagai Negara untuk mengahadiri Confrence tuna netra Internasional.. Rasanya Tuhan sudah mengatur masa depanku, tanpa aku mencari justru mendapat. tanpa aku duga pada tahun 2004 aku direkomendasikan Kartika Mitra Netra untuk bekerja di hotel Grand Maliya sebagai switch board atau operator telpon, pekerjaan ini lah yang mematangkan komptensiku. meskipun Awalnya aku mengalami kesulitan saat di tahun pertama aku berkerja di hotel bintang lima ini, bekerja sebagai switch board atau operator telpon tidak hanya menerima telpon, Checking atau pesan kamar, memberikan informasi atau menjawab setiap keluhan, akan tetapi juga berhubungan dengan Bill yang langsung berhubungan dengan komputer, untungnya komputer tersebut sudah diinstall jaws aplikasi untuk tuna netra sehingga ditahun berikutnya saya dapat bekerja dengan mandiri, namun sesekali masih tetap membutuhkan orang lain. Saya bersyukur melalui pekerjaan ini aku dapat membuktikan ditengah keterbatasku aku mampu mengerjakan tugas tersebut dengan dengan penuh tanggung. Pekerjaan kini telah aku dapat. Namun perjuangan belum lah selesai, problem lintas sektoral penyandang cacat masih terus terjadi. aksesibilitas penyandang cacat jauh dari harapan. Serta kebijakan pemerintah cenderung diskriminatif dan lain sebagainya. Menjadi bagian dari misi dan tanggung jawab yang harus aku jalankan.

    Sunday, 21 December 2008

    Goodbye (Air Supply)

    I can see the pain living in your eyes
    And I know how hard you try
    You deserve to have much more
    I can feel your heart and I sympathize
    And I'll never criticize
    all you've ever meant to my life
    I don't want to let you down
    I don't want to lead you on
    I don't want to hold you back
    From where you might belong
    You would never ask me why
    My heart is so disguised
    I just can't live a lie anymore
    I would rather hurt myself
    Than to ever make you cry
    There`s nothing left to say
    But goodbye

    You deserve the chance at the kind of love
    I'm not sure I'm worthy of
    Losing you is painful to me
    You would never ask me why
    My heart is so disguised
    I just can't live a lie anymore
    I would rather hurt myself
    Than to ever make you cry
    There`s nothing left to say
    But goodbye
    You would never ask me why
    My heart is so disguised
    I just can't live a lie anymore
    I would rather hurt myself
    Than to ever make you cry
    There's nothing left to try
    Though it's gonna hurt us both
    There's no other way
    Than to say
    Goodbye

    Dancing Queen (ABBA)

    You can dance, you can jive, having the time of your life
    See that girl, watch that scene, dig in the Dancing Queen

    Friday night and the lights are low
    Looking out for the place to go
    Where they play the right music, getting in the swing
    You come in to look for a King
    Anybody could be that guy
    Night is young and the music's high
    With a bit of rock music, everything is fine
    You're in the mood for a dance
    And when you get the chance...

    You are the Dancing Queen, young and sweet, only seventeen
    Dancing Queen, feel the beat from the tambourine
    You can dance, you can jive, having the time of your life
    See that girl, watch that scene, dig in the Dancing Queen

    You're a teaser, you turn 'em on
    Leave them burning and then you're gone
    Looking out for another, anyone will do
    You're in the mood for a dance
    And when you get the chance...

    You are the Dancing Queen, young and sweet, only seventeen
    Dancing Queen, feel the beat from the tambourine
    You can dance, you can jive, having the time of your life
    See that girl, watch that scene, dig in the Dancing Queen

    Nobody Wants to be Lonely (Christina Aguilera)

    There your are
    in a darkened room
    and you're all alone
    looking out the window
    your heart is cold
    and lost the will to love
    like a broken arrow
    here i stand in the shadows
    come to me
    come to me
    can't you see that

    CHORUS
    nobody wants to be lonely
    nobody wants to cry
    my body's longing to hold you
    so bad it hurts inside
    time is precious and it's slipping away
    and i've been waitin' for you all of my life
    nobody wants to be lonely
    so why why don't you let me love you
    can you hear my voice
    do you hear my song
    its a seranade
    so your heart can find me
    and suddenly
    you're flying down the stairs into my arms, baby
    before i start going crazy
    run to me
    run to me cause im dyin'

    REPEAT CHORUS

    i wanna feel you need me
    just like the air your breathin'
    i need you here in my life
    don’t walk away
    don't walk away
    don't walk away
    don't walk away,
    no nobody wants to be lonely
    nobody wants to cry
    REPEAT CHORUS

    My Way

    And now the end is near
    And so I face the final curtain
    My friends, I'll state it clear
    I'll state my case of which I'm certain
    I've lived a life that's full
    I've travelled each and every high way
    And more, much more than this
    I did it my way

    Regrets I've had a few
    but then again too few too mention
    I did what I had to do
    And saw it through without exemption
    I planned each charted course
    Each careful step along the by way
    And more, much more than this
    I did it my way

    Yes there were times I'm sure you knew
    When I bit off more than I could chew
    But threw it all when there was doubt
    I ate it up and spit it out
    I faced it all and I stood tall
    And did it my way

    I've laughed, I've loved and cried
    I've had my fill, my share of losing
    And now as tears subside
    I find it all so amusing
    To think I did all that
    And may I say not in a shy way
    Oh no, oh no, not me
    I did it my way

    For what is a man what has he got
    If not himself then he has not
    To say the things he truly feels
    And not the words of one who kneels
    The record shows I took the blows
    And did it my way

    ............
    Yes it was my way